Beranda > Multivitamin Pengetahuan > KENAPA FILM “?” BERBAHAYA DAN PENUH TANDA TANYA ??

KENAPA FILM “?” BERBAHAYA DAN PENUH TANDA TANYA ??

Membaca sebuah artikel dari Koran ini beberapa hari yang lalu mengenai film “?” yang disutradarai oleh sutradara yang pernah juga membuat sebuah film kontroversial beberapa tahun yang lalu berjudul ‘Perempuan Berkalung Sorban”. Penulis merasa bahwa perlu kiranya untuk disampaikan sejumlah informasi yang dapat memberikan suatu pemahaman bahwa film “?” ini memang berbahaya sehingga banyak ormas Islam dan lain-lain segera melakukan tindakan untuk meminta pihak yang berwenang untuk melarang penayangan film ini.

Nah,  beberapa hal diantaranya yang menyebabkan film ini berbahaya dan dapat merusak aqidah dari masyarakat, khususnya kaum muslimin adalah banyaknya faham-faham pluralisme yang disebarkan dalam film ini. Padahal sebagaimana ita ketahui faham pluralisme yang intinya menganggap semua agama itu sama adalah merupakan suatu faham yang telah dilarang oleh Majelis Ulama Indonesia.

Dan memang pada kenyataannya sungguh  amat banyak  sekali pesan-pesan sesat dalam film ini. Seperti dipaparkan oleh  Ketua MUI bidang Budaya, KH. A. Cholil  Ridwan yang berkomentar sesaat setelah selesai menonton film ini atas undangan produser film “aneh” ini. Dimana bahwa menurutnya  film ini sangat berbahaya dan beliau menganjurkan agar umat Islam tidak menonton film ini karena dikhawatirkan dapat tersesatkan.   ( baca :   suara  islam online – Ketua MUI Menilai Film ? Sesat Menyesatkan )

Film ini memang penuh pesan busuk pluralisme. Seperti dalam salah satu  adegan, salah satu tokohnya  yang beragama Islam menjadi murtad namun santai-santai saja, karena dia berpendirian bahwa dia keluar dari agama bukan berarti hal itu menunjukkan dia membenci Tuhan . Naudzubillah Min Dzaalik. Padahal sudah jelas bahwa perkara keluar agama itu adalah sesuatu yang berat dan bukan perkara remeh temeh seperti menukar baju dengan baju lain.

Selain pesan pluralisme, juga dalam film ini digambarkan suatu gambaran yang telalu berlebih-lebihan dan banyak sekali adegan-adegan yang aneh. Memang sejak dari awal film ini terlalu memaksa. Dalam film ini ingin digambarkan bahwa  ada kondisi memprihatinkan di masyarakat tentang bagaimana orang-orang yang berbeda agama (dan etnis) hidup berdampingan. Kengototan itu melahirkan sejumlah adegan yang terasa berlebihan dan tak wajar. Misalnya, ketika anak lelaki dari seorang pemilik restauran yang menjual daging babi itu sedang berjalan dan berpapasan dengan sekelompok pemuda masjid. Remaja-remaja bersarung itu meledek, ‘sipit!’ dan dibalas, ‘teroris!’ dan mereka pun kemudian berkelahi. Pada adegan lain, digambarkan sosok pemilik restauran tadi sebagai orang yang sangat toleran, selalu mengingatkan pegawainya yang muslimah  agar tak lupa mengerjakan shalat. Tapi kemudian kita menyaksikan kontras yang mengejutkan yaitu  kepala babi di atas meja, dan perempuan yang shalat di dekatnya. Hal-hal yang begitu kontras dan aneh  semacam itu pun banyak muncul dalam film ini.

Dalam film ini, hal ini ( baca:pluralisme ) dipropagandakan dengan kemasan suatu toleransi yang begitu manis seperti madu tapi sesungguhnya sungguh membahayakan laksana racun mematikan. Padahal toleransi itu mestinya merupakan suatu kerukunan beragama tetapi kerukunan itu tidak  sampai membuat seseorang mengorbankan keyakinannya dalam lingkungan atau wilayah tersebut. Bahkan ada indikasi kuat bahwa film ini membolehkan seseorang untuk tidak beragama, Dan perlu diketahui, bahwa sesungguhnya toleransi bukan seperti yang digembar-gemborkan dalam film ini. Karena toleransi adalah saling menghormati dalam hal kebebasan menjalankan agama, tanpa adanya keharusan ataupun keikutsertaan dalam pelaksanaan ajaran suatu agama selain yang dipeluknya.

Dan film ini seolah-olah ingin mencitrakan bahwa toleransi itu adalah ikut aktif juga dalam kegiatan agama lain yang kita anut. Ada opini yang digiring oleh para penganut Pluralisme agama yang telah diharamkan oleh MUI ini, agar masyarakat menganggap orang-orang yang tidak aktif juga membantu kegiatan agama lain boleh dicap sebagai orang yang tidak toleran dalam hal beragama. Padahal toleransi itu adalah saling hormat menghormati tanpa mengorbankan keyakinan dari masing-masing orang yang beragama. Betul-betul menyesatkan dan sesuai dengan judulnya yang membingungkan.

Demikian sekelumit hal-hal berbahaya yang disebarkan dalam film ini, dan harapan saya semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dan umat muslim khususnya, sehingga pada akhirnya masyarakat dapat melihat bahwa film ini memang berbahaya dan kemudian memutuskan untuk tidak menontonnya serta mendukung agar penayangannya untuk dihentikan. Dan semoga saja kedepan, kita  berharap agar lembaga-lembaga yang berwenang seperti KPI dan Lembaga Sensor Film dapat menyeleksi secara ketat film-film yang layak ditayangkan dan terakhir, semoga  Pemerintah dapat menindak tegas pihak-pihak yang menyebarkan paham-paham menyesatkan seperti Pluralisme, yang dapat menimbulkan kekacauan bagi para pemeluk agama di Republik ini. Semoga Alloh Subhaanahu wa ta’ala memberikan kita hidayah dan kekuatan untuk selalu berjalan di jalan kebenaran. Amin.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: