Beranda > Multivitamin Pengetahuan > EMAS ITU JANGAN DIKREDIT, TAPI KONTAN AJA..

EMAS ITU JANGAN DIKREDIT, TAPI KONTAN AJA..

Menarik jika kita bicara tentang salah satu jenis logam mulia ini, karena kelebihan-kelebihan yang menyertainya menyebabkan emas menjadi salah satu benda yang paling diincar oleh semua orang. Selain merupakan simbol kekayaan dan keagungan bagi yang memegangnya, emas juga menjadi salah satu jenis investasi yang sangat menguntungkan untuk masa depan. Disebabkan oleh nilainya yang tak tergerus oleh inflasi atau istilah kerennya Zero Inflation, menyebabkan menabung emas menjadi salah satu cara yang tepat untuk menggapai cita-cita atau keinginan di masa depan seperti mempersiapkan masa pensiun, untuk pergi haji, tabungan pendidik untuk anak dan sebagainya.

Kita sebagai manusia juga mesti berusaha untuk memperoleh emas dan menggunakannya sebagian untuk kita nikmati dan sebagian lagi tentu saja untuk kita infaqkan kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan dan juga untuk beribadah kepada Allah.

Nah, dari hal itu kita juga mesti ingat bagaimana cara kita memperoleh kekayaan. Apakah dengan cara yang halal ataukah dengan jalan yang tidak diridloi-Nya. Berkaitan dengan emas, kita pun harus memperhatikan cara kita memperoleh emas. Agar kekayaan kita berkah dan insya allah diridloi-Nya dan bukan mustahil untuk ditambah oleh Allah S.W.T, amiin!!

Artikel saya ini, saya tulis setelah saya membaca tentang adanya suatu program dari sebuah BUMN yang menawarkan tentang pembelian emas baik secara kontan maupun kredit. Nah, yang membuat kening berkerut adalah pembelian emas secara kredit. Sehingga saya  menulis artikel ini sebagai suatu peringatan bagi saudara-saudara untuk sebaiknya membeli secara kontan saja, dan hindari cara pembelian emas seperti ini. Kenapa? Karena hal ini sifatnya haram.

Kenapa haram?? Karena emas termasuk salah satu barang ribawi yang jika dijualbelikan harus dilakukan secara kontan (yadan bi yadin). Yaitu tidak boleh bertempo (nasi`ah) atau secara kredit. (Taqiyuddin an-Nabhani, an-Nizham al-Iqtishadi fi al-Islam, hal. 267; Ali as-Salus, Al-Qadhaya al-Fiqhiyah al-Mu’ashirah, hal. 031; Adnan Sa’duddin, Ba’iu at-Taqsit wa Tathbiqatuha al-Muashirah, hal. 151; Shabah Abu As-Sayyid, Ahkam Baiut Taqsith fi Asy-Syariah al-Islamiyah, hal. 43; Hisyam Barghasy, Jual Beli Secara Kredit (terj.), hal. 109).

Dalil keharamannya adalah hadis-hadis Nabi SAW. Antara lain riwayat dari Ubadah bin Shamit RA bahwa Nabi SAW bersabda,”Emas ditukarkan dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum (al-burru bil burri), jewawut dengan jewawut (asy-sya’ir bi asy-sya’ir), kurma dengan kurma, garam dengan garam, harus sama takarannya (mitslan bi mitslin sawa`an bi sawa`in) dan harus dilakukan dengan kontan (yadan bi yadin). Dan jika berbeda jenis-jenisnya, maka juallah sesukamu asalkan dilakukan dengan kontan (yadan bi yadin).” (HR Muslim no 1587).

Imam Syaukani menjelaskan hadis tersebut,”Jelas bahwa tidak boleh menjual suatu barang ribawi dengan sesama barang ribawi lainnya, kecuali secara kontan. Tidak boleh pula menjualnya secara bertempo (kredit), meskipun keduanya berbeda jenis dan ukurannya, misalnya menjual gandum dan jewawut (sya’ir), dengan emas dan perak.” (Imam Syaukani, Nailul Authar, hal. 1061).

Dalil lainnya riwayat Ubadah bin Shamit RA bahwa Nabi SAW bersabda,”Juallah emas dengan perak sesukamu, asalkan dilakukan dengan kontan.” (HR Tirmidzi). Menjelaskan hadis ini, Imam Taqiyuddin an-Nabhani berkata,”Nabi SAW telah melarang menjual emas dengan mata uang perak (al-wariq) secara utang (kredit).” (Taqiyuddin an-Nabhani, ibid., hal. 267).

Dalil-dalil di atas jelas menunjukkan bahwa menjualbelikan emas haruslah memenuhi syaratnya, yaitu wajib dilakukan secara kontan. Inilah yang diistilahkan oleh para fuqoha dengan kata “taqabudh” (serah terima dalam majelis akad) berdasarkan bunyi nash “yadan bi yadin” (dari tangan ke tangan). Dengan demikian, menjualbelikan emas secara kredit atau angsuran, melanggar persyaratan tersebut sehingga hukumnya secara syar’i adalah haram.

Memang ada yang berpendapat bahwa emas yang dijual sekarang dibeli dengan uang kertas (fiat money; bank note), yang tidak mewakili emas. Jadi emas tersebut berarti tidak dibeli dengan sesama emas atau barang ribawi lainnya (semisal perak), sehingga hukumnya boleh karena tidak ada persyaratan harus kontan.

Pendapat tersebut tidak dapat diterima, karena uang kertas sekarang sama fungsinya dengan mata uang emas (dinar) dan mata uang perak (dirham), yaitu sebagai alat tukar untuk mengukur harga barang dan upah jasa. Maka dari itu, hukum syar’i yang berlaku pada emas dan perak berlaku juga untuk uang kertas sekarang. (Abdul Qadim Zallum, Al-Amwal fi Daulah al-Khilafah, hal. 175).

Jadi kesimpulannya, menjualbelikan emas secara kredit hukumnya haram, karena emas termasuk barang ribawi yang disyaratkan harus kontan jika dijualbelikan atau dipertukarkan. Maka saudara-saudaraku yang ingin berinvestasi emas, sebaiknya hati-hati dan melihat dulu bagaimana hukumnya dalam memperoleh kekayaan tersebut, agar harta yang kita miliki berkah, diridloi dan insya allah akan ditambah oleh Allah subhaanahu wa ta’ala. Amiin. Wallahu a’lam.

Dikutip : dari berbagai sumber

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: