Beranda > Multivitamin Pengetahuan > PROGRAM PEMBERDAYAAN YANG TAK MEMANDIRIKAN

PROGRAM PEMBERDAYAAN YANG TAK MEMANDIRIKAN

PNPM-1

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat atau sering disingkat dengan PNPM dewasa ini menjadi suatu solusi untuk mengentaskan persoalan klasik bernama kemiskinan. Sejak dirumuskan dalam suatu kesepakatan antara banyak negara termasuk Indonesia, yang menghasilkan suatu tujuan yang dikenal dengan MDg’s atau Millenium Development goal’s yang dimana tujuannya adalah untuk mengatasi permasalahan-permasalahan seperti kemiskinan dan kelaparan, pendidikan, kesehatan anak dan ibu, persebaran penyakit menular, kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan serta kerusakan lingkungan.
Akan tetapi pada akhirnya program dengan tujuan yang mulia itu dapat menjadi suatu bumerang yang sangat berbahaya. Oleh karena dana yang menjadi modal dalam pelaksanaan program itu diperoleh dari hutang yang diberikan oleh Bank Dunia.
Dari situs detik.com, 5 Agustus 2009, diketahui bahwa Bank Dunia menambah utangan untuk PNPM ( Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat ) Republik Indonesia sebesar 500-800 juta Dolar AS. Hal tersebut tentu saja mengejutkan, karena menurut situs VIVA news (16/02) bahwa utang luar negeri Indonesia yang jatuh tempo sepanjang 2009 ini tercatat Rp 100 triliun. Dan total utang yang ada di dalam pembukuan pemerintah mencapai Rp 1.500 triliun!. Jadi, jika ditambah lagi dengan hutang dari Bank Dunia tentu saja akan mengakibatkan bertambahnya persoalan besar bagi Pemerintah beserta Rakyat Indonesia.
Akibat dari persoalan tersebut tentu saja mengorbankan esensi dari Program Nasional tersebut yakni membentuk terciptanya Negara yang Madani. Esensi tersebut sebenarnya sudah tercoreng saat kesepakatan pemakaian hutang sebagai modal dalam pelaksanaan Program itu. Sehingga faktor utama penyebab kemiskinan tetap saja tak tersembuhkan oleh pihak pelaksana Program Nasional tersebut.
Kenapa tak bisa tersembuhkan? Karena usaha untuk menciptakan kemandirian Bangsa melalui modal hutang bukan jalan yang arif dan efektif untuk menyelesaikan masalah. Terkesan seperti menutup lubang yang satu, akan tetapi menggali lubang besar yang lebih banyak di tempat lain. Jadi hal tersebut seperti mencoba menyelesaikan masalah yang satu tetapi malah menimbulkan persoalan pelik yang baru.
Setelah lepas dari cengkeraman IMF ( International Monetary Fund ), beberapa tahun yang lalu, idealnya Pemerintah Indonesia dengan kebijakan ekonominya seharusnya melakukan suatu langkah perbaikan menyeluruh dalam setiap aspek perekonomian yang bermuara pada kestabilan ekonomi, salah satunya hutang yang semakin sedikit, demi kesejahteraan rakyat. Akan tetapi, Indonesia seperti peribahasa orang bijak, lepas dari sarang buaya tapi masuk ke kandang Singa. Indonesia kini terjerat kedalam hutang lagi, yang kini diberikan oleh Bank Dunia. Jeratnya bahkan mungkin lebih akut dan lebih halus, karena programnya terkesan lebih pro kesejahteraan rakyat, akan tetapi sebenarnya kenyataannya tidak demikian.
Pemerintah sebaiknya segera menyadari bahwa masyarakat tidak akan pernah menjadi mandiri dan makmur dengan dana hutang. Pemerintah hendaknya bercermin dari pengalaman sebelumnya saat masih dibawah ketiak IMF, dimana segala kebijakan Pemerintah yang dijalankan sepertinya harus distempel dulu oleh petinggi IMF. Sehingga banyak kebijakan yang bukan untuk kemakmuran rakyat, akan tetapi lebih ditujukan untuk kemakmuran Negara Adidaya dan segelintir orang. Jadi, agar tidak seperti keledai, yang jatuh di lubang yang sama, Pemerintah harus segera mengupayakan kebijakan untuk pengembalian hutang sesegera mungkin dan menghentikan pinjaman dari Bank Dunia. Karena berdasarkan pengalaman sebelumnya, hutang adalah alat penjajahan ( Imperialisme ) ekonomi dan politik yang dilakukan negara adidaya melalui lembaga keuangannya.
Langkah selanjutnya, sebaiknya Pemerintah melakukan suatu langkah yang efektif dalam penggunaan sumber modal. Salah satunya adalah bisa saja menggunakan sumber pendanaan dari dana Zakat. Toh, dengan penduduk muslim terbesar di dunia, potensi pengelolaan Zakat yang efektif untuk kemaslahatan masyarakat, terutama masyarakat muslim dapat ditingkatkan dengan menyinergikannya dengan program pemberdayaan Pemerintah sehingga modal yang diperlukan tidak lagi berasal dari dana hutang. Sehingga esensi dari Program pemberdayaan Masyarakat itu dapat tercapai sehingga kemandirian bangsa menuju Negara yang madani, dalam lindungan dan juga penuh keberkahan dari Allah S.W.T, dapat tercapai di Republik tercinta kita ini. Amin Yaa Robbal Aalamiin.
Terakhir, penulis ingin menyampaikan kepada seluruh pembaca blogku, Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1430 Hijriyah. Minal Aidin Wal Faidzin. Semoga Nilai kesucian Ramadhan membuat hidup kita menjadi lebih baik menyongsong masa depan. Amin.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: